jump to navigation

SEJARAH PERJANJIAN PERDAMAIAN TUMBANG ANOI (I) June 11, 2013

Posted by hardi saputra in Uncategorized.
trackback

Tumbang Anoi adalah salah satu desa yang berada di kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia. Tumbang Anoi adalah tempat bersejarah bagi perjalanan masyarakat Dayak. Tumbang Anoi menjadi tempat rapat akbar untuk mengakhiri tradisi mengayau pada tahun 1894.

Tumbang Anoi adalah salah satu pusat permukiman penduduk Suku Dayak Kadorih, salah satu subsuku Dayak Ot Danum di hulu Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah. Tumbang Anoi dihuni oleh 418 warga dari 116 keluarga.

Tumbang Anoi berjarak sekitar 300 kilometer arah utara Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah. Hingga saat ini, tempat itu masih harus ditempuh dengan perjalanan darat selama tujuh jam, dilanjutkan dengan menggunakan perahu motor menyusuri Sungai Kahayan ke arah hulu selama dua jam dari Tumbang Marikoi, ibu kota Kecamatan Damang Batu.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Gezicht_vanaf_de_Kahajan_rivier_op_de_Dajak_kampong_Toembanganoi_Midden-Borneo._TMnr_60010390

Gambar  Desa Tumbang anoi tahun 1894

Mengayau atau memenggal kepala musuh dalam perang antarsuku dahulu kala adalah salah satu kebiasaan sejumlah subsuku Dayak di daratan Kalimantan (kini terbagi menjadi wilayah Indonesia, Malaysia, dan Brunei) yang sangat ditakuti. Kadangkala, mengayau tidak hanya dilakukan dalam peperangan, tetapi juga ketika merampok, mencuri, atau menduduki wilayah subsuku lain.

skulls1

Gambar Tengkorak

Sebelum disepakati untuk dihentikan, mengayau makin membudaya karena semakin banyak kepala musuh yang dipenggal (dibuktikan dengan banyaknya tengkorak musuh di rumahnya), seorang lelaki semakin disegani. Bahkan, perselisihan antarsuku terus berlanjut karena masing-masing suku membalas dendam. Perselisihan berkepanjangan itu membuat Residen Belanda di Kalimantan Tenggara yang kini meliputi wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan merasa tidak aman.

Salah satunya adalah terjadinya perang antar suku Dayak Ngaju dari Kahayan, Kalimantan Tengah dengan suku Dayak Kenyah Mahakam, Kalimantan Timur sebagai akibat adanya kesalah fahaman yang titik akar permasalahannya adalah memperebutkan lokasi tempat berusaha pengambilan (memanen) getah Nyatu.

Lokasi tempat usaha pengambilan getah Nyatu ini sehari harinya adalah tempat usaha memanen getah Nyatu oleh orang Dayak Ngaju Kahayan. Lokasi daerah tempat pengambilan getah Nyatu ini terletak di antara perbatasan wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tepatnya di pegunungan Puruy Ayau dan Puruk Sandah.  Di mana perang antar Suku Dayak ini semakin memanas di kedua belah pihak dengan cara saling kayau mengayau.
Sehingga terjadi peristiwa yang di kenal dengan nama Kayau 100 yang artinya : Telah terjadi pertempuran /perang di Tumbang Tuan sebelah Udik Tumbang Toyus di Sei Barito Hulu atau pertempuran di Datah Nalau, Kalimantan Timur.

Penyerangan pertama kali di lakukan oleh Pihak suku Dayak Kenyah yang di pimpin oleh Panglima perang yang bernama:

–          Sangiang Hadurut

–          Tingang Koai

Daerah daerah yang menjadi sasaran serangan Kayau meliputi :

–          Kurun Tampang

–          Sei Miri dan Sei Hamputung

–          Pajangei

–          Sei Beringei

–          dan Sei Rungan dan lain lain

Pada akhirnya Pihak suku Dayak Ngaju dari Kahayan mengadakan serangan balasan Kayau juga yang di pimpin oleh empat orang bersaudara kandung yang tergolong sebagai Panglima perang yaitu:

–          Undeng sebagai pimpinan perang

–          Teweng

–          Batoe

–          Beneng
Keempat orang Panglima perang ini berasal dari Kampung Batu Nyiwuh atau kalau sekarang Wilayah Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Para Panglima yang gagah berani ini telah di pilih oleh seluruh warga Masyarakat Dayak Ngaju dari Kahayan dengan cara terlebih dulu melakukan ritual Menajah Antang.
Menajah Antang artinya: Memanggil roh halus dari alam gaib dengan ritual khusus yang jika datang akan berbentuk dalam wujud seperti burung elang Menajah Antang ini merupakan kebudayaan leluhur orang Dayak Kalimantan secara turun temurun dan yang bisa melaksanakan ritual ini hanya Orang Dayak yang mengerti tentang bahasa leluhur Dayak, bahasa Sangiang, bahasa Nahu dan menganut agama Kaharingan biasanya Menajah Antang di lakukan oleh : Basir, Pisur atau Tukang Tawur yang bisa berkomunikasi dengan alam gaib di Borneo.
Menajah Antang atau Najah Antang biasanya di gunakan untuk berbagai keperluan yang penting ,salah satunya untuk meramal kesuksesan atau kegagalan sebelum berangkat perang. Pihak Dayak Ngaju dari Kahayan mengirim utusan Kayau kepada Pihak Dayak Kenyah di Kalimantan Timur dengan membawa tutuk bakaka yang berupa sababulu dengan Mandau yang artinya sebagai isyarat pemberitahuan akan di adakannya peperangan.

Sababulu adalah sepotong bamboo yang di hiasi dan di tancapkan di tanah dengan di selipi pesan khusus bahwa Pihak Dayak Ngaju dari Kahayan siap untuk menanti kedatangan Kayau Kenyah di Tumbang Tuan sebelah udik Tumbang Topus di sei Barito Hulu untuk bertempur/ perang secara terbuka dan berhadap hadapan.

Dalam melakukan serangan balasan ini Pihak Dayak Ngaju Kahayan mengirim pasukan sebanyak 200 (dua ratus) orang dengan menggunakan 8 (delapan) regeh ( sejenis perahu )yang terbuat dari kulit kayu yang di dempul memakai damar hutan (nyating dalam bahasa Dayak Ngaju ).

Di pertempuran yang pertama Panglima Undeng dan pasukannya mengalami kekalahan dan mereka mundur menuju Desa Long Bagun. Sedangkan pada pertempuran yang kedua kalinya semua anak buah Panglima Undeng dan teman temannya tewas terbunuh sedangkan yang selamat dan hidup hanya para Panglimanya saja yaitu:

–          Panglima Undeng

–          Panglima Teweng

–          Panglima Batoe

–          Panglima Beneng

Di pihak Dayak Kenyah juga mengalami hal yang sama pimpinan perang Sangiang Hadurut dan semua anggota pasukannya tewas terbunuh dalam perang terbuka secara berhadap hadapan tersebut , termasuk Tingang Koai yang bunuh diri karena merasa malu telah menjadi tawanan oleh pihak musuh.
Kesimpulannya: Antara ke dua kubu yang sedang bertikai /berperang tidak ada yang menang atau kalah.

Perselisihan atau salah faham sering terjadi antar suku Dayak di Kalimantan yang berakhir dengan peristiwa berdarah atau perang Kayau, karena tidak adanya keseragaman ketentuan hukum adat untuk seluruh masyarakat suku Dayak di Kalimantan.

Perang Kayau yang terjadi antar suku Dayak di pedalaman tersebut akhirnya di ketahui oleh pihak pemerintah Hindia Belanda yang berkedudukan di Nanga Pinuh Kalimantan Barat yang berusaha mencari solusi untuk menyelesaikan pertikaian tersebut dengan cara berusaha untuk menghentikan perang Kayau yang sedang terjadi dan berusaha untuk menetapkan keseragaman hukum adat untuk seluruh masyarakat suku Dayak di Kalimantan.

Sumber :

http://tanah-borneo.blogspot.com

http://esterkusumanegara.blogspot.com/2012/09/sejarah-perdamaian-tumbang-anoi.html

http://gerdayakjakarta.blogspot.com/2012/06/sejarah-dan-perjanjian-tumbang-anoi.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Tumbang_Anoi,_Damang_Batu,

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: