jump to navigation

Legenda Batu Suli November 18, 2013

Posted by hardi saputra in Uncategorized.
trackback

BatuSuliKahayanRiverBatu Suli

 

Letak objek alam Batu Suli yang berdiri kokoh ini berdekatan dengan lokasi areal eks HPH PT. Sikatan Wana Raya dan HPH PT. Domas Raya Kecamatan Tewah, Kalimantan Tengah masuk wilayah Sungai Kahayan dan Sungai Miri, tepatnya di Desa Batu Nyiwuh. Jenis tanah pada wilayah ini pada umumnya podsolik merah kuning dan podsolik merah serta jenis tanah aluvial yang banyak dijumpai di sepanjang sungai. Jenis tanah berlempung seperti ini termasuk cukup subur untuk menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan. Apalagi ditunjang dengan tipe iklim A (nilai Q = 5.2%) dengan curah hujan yang cukup tinggi yang terjadi mulai bulan Oktober sampai Mei, menopang terbentuknya klimaks tipe hutan hujan tropis basah (tropical rain forest) yang sangat kaya keanekaragaman hayati di dalamnya.

Batu Suli yang terletak di Kabupaten Gunung Mas. Jarak kabupaten tersebut dari ibukota propinsi kurang lebih 200 km dengan jarak tempuh menggunakan transportasi darat kurang lebih 5 jam perjalanan. Perjalanan dengan menggunakan mesin perahu dari pelabuhan Tewah dapat di tempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam.

Menurut ceritanya, nama Batu Suli diambil dari nama buah hutan yang tumbuh di atas bukit batu tersebut yaitu Buah Suli, kulitnya berwarna krem, dagingnya berwarna bening tipis dan bijinya berwarna hitam. Bentuk dan ukuran buah ini agak bulat lonjong sebesar kelingking perempuan remaja dengan panjang kurang lebih 10 cm. Rasa buahnya sangat manis dengan aroma yang khas. Sungguh sangat disayangkan karena keberadaan buah ini sudah mulai langka dan sulit untuk mendapatkannya.

Sedangkan legenda atau mitos dari Batu Suli Menurut cerita orang-orang tua, dahulu kala sebuah tebing batu yang disebut batu Suli pernah roboh sehingga menutup hubungan lalu-lintas ikan dari Kahayan Hulu ke Kahayan Hilir. Kejadian ini sungguh tidak mengenakan bagi bangsa Ikan, dahulu mereka mempunyai kekerabatan dan sanak saudara di Kahayan Hulu atau sebaliknya di Kahayan Hilir.

Lama kelamaan keadaan itu tidak tertahankan lagi bagi bangsa Ikan, meraka merasa seperti terpenjara akibat putusnya aliran sungai Kahayan itu. Mereka benar-benar tersiksa aikbat peristiwa tebing longsor itu. Masalah besar bangsa ikan itu harus dicarikan pemecahannya. Untuk menanggulanginya, kemudian para ikan berkumpul dan mengadakan musyawarah besar di Sungai Kahayan. Musyawarah besar bangsa ikan itu akhirnya menghasilkan keputusan yaitu untuk menegakkan kembali tebing yang telah roboh itu.

Akhirnya pada hari yang telah disepakati ribuan bangsa ikan berkumpul untuk bersama-sama menegakkan tebing yang menghambat sungai Kahayan itu. Ikan tapa sesuai dengan hasi musyawarah ditunjuk sebagai mandor. Pekerjaannya mengharuskan ia terus-menerus berteriak-teriak secara lantang agar semangat para pekerja bangsa ikan itu selalu tinggi. Sementra ikan pipih sesuai hasil musyawarah juga diberi tugas untuk memanggul tebing yang roboh itu di atas punggungnya yang pipih. Begitulah kerja keras bangsa ikan itu pun berlangsung sampai berhari-hari lamanya.

Ahirnya berkat usaha keras segenap bangsa ikan itu, tebing Batu Suli dapat ditegakkan kembali seperti sedia kala. Tentu saja hasil keras itu disambut dengan rasa bahagian oleh segenap bangsa ikan. Perasaan terpenjara sekian lama akhirnya bisa bebas lagi, dan bangsa ikan pun dapat kembali saling berhubungan antara di Kahayan hilir dan Kahayan hulu.

Namun, rupanya hasil keras itu harus ditebus mahal oleh bangsa ikan yang terlibat dalam pekerjaan besar itu.     Setiap ikan yang turut mengambil bagian dalam pekerjaan itu, harus menanggung akibat pekerjaan besar itu. Sebagai contohnya, keturunan ikan tapa, misalnya, karena kakeknya dahulu terlalu banyak membuka mulut untuk berteriak-teriak dalam tugasnya sebagai mandor, maka kini semua anak keturunannya memiliki mulut yang berukuran besar. Sementara keturunan ikan pipih, karena kakeknya harus memanggul tebing yang sangat berat itu, punggungnya bungkuk dan tulangnya hancur. Maka kini semua keturunan ikan pipih mempunyai punggung yang bungkuk dan tulangnya yang halus-halus.

 

 

Sumber : http://ugiborneo.blogspot.com  dan http://kisahlawas.blogspot.com

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: