jump to navigation

NYAI BALAU III December 16, 2013

Posted by hardi saputra in Uncategorized.
trackback

sandung kanyapi sandung nyai balauSandung Nyai Balau dan Temanggung Kanyapi

“NYAI BALAU” (Kisah Nyata seorang putri Dayak berambut panjang yang sakti mandraguna)

NYAI BALAU  (PART III)

Kemudian beberapa waktu setelah peristiwa itu, keluarga (alm) Antang, melai berkemas berangkat untuk menyerang lewu Tewah, dengan maksud membalas dendam atas kematian keluarga mereka Antang. Mereka tidak melewati transportasi air, akan tetapi melewat jalan lain secara diam-diam , yaitu melewati hutan belantara, turun lembah, naik bukit, jalan yang berliku-liku, agar penyerangan mereka tidak diketahui musuh.

Ketika hari sudah sore, tibalah pasukan dari Juking Sopang itu di sebuah bukit yang dinamakan “Bukit Ngalangkang”, bukit ini tepat di belakang lewu Tewah, dan tempat strategis untuk persiapan menyerang musuh. Dan mereka sengaja menunggu malam tiba, karena saat malam dan gelap, tentunya musuh yang akan di serang sedang tidur dan tidak siap.

Malam pun sudah tiba, maka mulailah pasukan Juking Sopang turun dari atas “Bukit Ngalangkang”, rencananya untuk memasuki lewu Tewah dan memulai penyerangang. Namun ketika sudah mendekat lewu Tewah, mereka kembali berputar-putar arah jalan dan akhirnya kembali lagi ke Bukit Ngalangkang. Beberapa kali mereka mencoba untuk memasuki lewu Tewah, dan tetap gagal, karena mereka tidak menemukan jalan yang benar dan tidak dapat melihat lewu Tewah. Mereka hanya berputar-putar di Bukit Ngalangkang. Keadaan itu membuat mereka kebingungan

“Lhoo….!! seru seseorang, “mengapa kita hanya berputar-putar di Bukit Ngalangkang ini saja?” mengapa kita tidak dapat menemukan jalan dan melihat lewu Tewah?”  Kalau seperti ini, bagaimana mungkin kita bisa masuk lewu Tewah, apalagi untuk membalas dendam, melihatnya saja kita tidak mampu.?” Kata seseorang lagi.

“Oh…. ini pasti karena kesaktian Nyai Balau, dia sudah membentengi atau memagari dengan “salatutup” (aji penutup kota) lewu Tewah dengan kesaktiannya, sehingga kita tidak dapat melihatnya.!”

“Baik, kalau demikian, mari kita menghimpun segenap kekuatan dan kesaktian kita untuk membuka “salatutup Nyai Balau te.!”

Dan dengan segenap kemampuan mereka dari Juking Sopang itu, berusaha membuka “salatutup”, tetap saja mereka tidak dapat membukanya. Sungguh kesaktian Nyai Balau lebih tinggi dari kesaktian mereka.

Dalam keadaan putus asa, karena gagal memasuki lewu Tewah dan membuka salatutup itu, mereka berkata : “ Kalau seperti ini, tidak mungkin kita berhasil membalas dendam terhadap Nyai Balau, membuka salatutupnya saja kita tidak mampu, apalagi menghadapinya langsung, dan tidak mungkin kita menang” Lebih baik kita pulang saja ke Juking Sopang (Rangan Daha).

Pasukan dari Juking Sopang akhirnya pulang kembali ke Juking Sopang, dengan perasan kecewa dan kesedihan hati karena gagal membalas dendam. Memang Nyai Balau benar-benar “Sakti Mandraguna”, dan ia memang mengetahui kedatangan pasukan dari Juking Sopang, karena itu ia memasang “salatutup lewu” (pagar kota), karena ia ingin menghindari pertumpahan darah yang lebih besar lagi.

Baru sesudah itu, Nyai balau menceritakan kepada kepada semua warga lewu Tewah perihal  kedatangan dan rencana jahat pasukan Juking Sopang, karena itu ia memasang ‘salatutup lewu”.

Sesudah peristiwa itu, lewu Tewah, aman tenteram, tidak ada seorang pun yang berani mengganggu dn membuat onar. Semua orang menghormati dan mengagumi akan Kesaktian dan Kearifan Nyai Balau dan memajukan lewu Tewah dan menjaganya.

Hingga akhir hayatnya, Nyai Balau selalu dikenang, dan namanya terukir indah di hati warga Tewah bahkan seluruh masyarakat Dayak yang mengenalnya. Bahkan sampai sekarang nama Nyai Balau selalu disebut-sebut “Secantik orangnya, dan seindah rambutnya yang panjang. Demikian Nyai Balau menjadi simbol Kecantikkan Putri Dayak, berambut panjang yang Sakti Mandraguna.

Nama besar Nyai Balau yang tersohor kesegala penjuru negeri, turun-temurun bahkan sampai masa penjajahan Belanda ke Indonesia, membuat serdadu Belanda tidak berani mendekati Lewu Tewah.

Sumber : http://giusbuyuttigoi.blogspot.com

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: